Bunda menyayangi Nina seperti matahari yang selalu menyinari bumi

Bunda menyayangi Nina seperti matahari yang selalu menyinari bumi

Kereta merambat lambat.

“Bunda, berapa lama perjalanan kita?”

“Mungkin sekitar delapan jam, Nina.”

“Apakah delapan jam itu lama?”

Bunda tersenyum. “Jika kamu tidur sekarang, nanti, ketika bangun, pasti kita sudah sampai tujuan.” Kata bunda menerangkan hati-hati, sembari menyodorkan boneka panda kesayangan Nina. “Boneka panda ini sudah mengantuk, sebaiknya kamu segera tidur menemaninya.”

Nina menggeleng, tidak tertarik untuk tidur. Baginya, suara bising roda besi yang menggilas rel di bawahnya terlalu menganggu di telinga.

“Bunda sayang Nina?” Tiba-tiba, entah mengapa, Nina bertanya demikian.

“Tentu, Bunda sayang Nina. Sangat sayang malah…” Bunda menanggapi dengan tetap tersenyum tenang; penuh kehangatan. Bunda sudah hafal, setiap anak gadisnya itu merasa rindu kepada ayahnya –yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, pasti lah pertanyaan seperti itu akan ditanyakan. “Bunda menyayangi Nina seperti matahari yang selalu menyinari bumi. Kau tahu, meski matahari sesekali harus tenggelam, namun, matahari tetap memantulkan cahayanya kepada bulan, agar bumi tetap terang di malam hari.”

Dahi Nina mengkerut, mencoba mencerna penjelasan dari bunda. “Lalu, apakah ayah juga menyayangiku seperti matahari, Bunda?”

“Tentu saja. Meski kamu sekarang belum bisa lagi bertemu dengan ayah, tapi lihatlah bulan itu.” Bunda menunjuk bulan di luar jendela. “Bulan yang selalu tersenyum kepadamu, akibat matahari yang bersinar di balik sana.”

“Apakah Nina masih bisa bertemu dengan ayah?”

“Kita akan bertemu ayah di surga.”

“Surga?”

“Ya, surga. Sebuah taman yang sangat indah.”

“Di mana itu surga?” Bunda terdiam. “Nina mau ke surga, Bunda. Boleh?”

* * * *

Esok pagi tersiarlah kabar di berbagai media; sebuah kereta anjlok dan menewaskan semua penumpangnya.

Tinggalkan Balasan

Close Menu