Bidadari Dewi Arimbi

Bidadari Dewi Arimbi

Sore dilingkupi awan hitam di setiap sudut langit. Hujan semakin lebat mengepung desa. Angin ribut saling beradu. Sesekali petir berkilat terang, seolah sedang mengambil gambar ihkwal keriuhan alam ini.

Sementara, seorang perempuan masih muda, guru honorer di salah satu SD swasta, sedang melesat memboncengkan murid kesayangan. Bermodal sepeda ontel tua, guru muda itu terus nekat mengayuh pedal menerjang hujan badai sore ini. Meski jarum-jarum air langit menghujam di kulit, meski angin ribut menghempas di tubuhnya, namun ia tidak peduli, tetap bersemangat memburu waktu demi tiba di kota menunaikan sebuah janji.

Rupa-rupanya semangat perempuan itu turun juga ke muridnya. Dengan berpegang kuat di pinggang gurunya, murid itu tidak menghiraukan udara dingin yang menggigit di tubuhnya. Gadis kurus itu menggigil, baju seragamnya basah, namun ia juga tidak peduli, tetap bersemangat demi menonton sebuah Pagelaran Pentas Seni.

“Semangat, Nak! Kita harus menonton bidadari menari malam ini.”

“Siap, Bu Guru!!”

“Katakan semangat!”

“Semangaaattt!! Yeey!!”

Kriingg kriiiinggg!!! Bunyi bel sepeda memekik panjang, di tengah semangat mereka yang berapi-api. Juga terdengar sesekali bunyi roda yang menggilas bebatuan jalan terjal. Sebentar-sebentar, sepeda berayun, sebentar-sebentar, sepeda oleng, hampir terjatuh, karena batu-batu terserak di jalanan ini sangat banyak dan menghambat perjalanan. Namun biarlah, pikir bu guru, jalanan ini memang sudah lama rusak. Mau dikata apa lagi, pikir bu guru lagi, tidak berguna rasa-rasanya jika sekarang harus menagih janji pak bupati, yang pada masa kampanyenya, dulu, padahal berjanji akan membenahi jalanan rusak di desa ini. Namun janji hanyalah janji, setelah kursi jabatan diduduki, janji manis itu malah menguap, melebur bagaikan debu.

Namun yang menjadi perhatian utama bu guru saat ini bukan itu. Bagi bu guru, yang lebih patut dibenahi adalah tentang dirinya sendiri. Perihal nasibnya, guru hononer, yang saban bulan hanya dapat menghasilkan selembar amplop cokelat berisi gaji dengan nominal luar biasa: ‘semogacukup’, yang dijemput di setiap tanggal muda di ruang Tata Usaha, lalu dibuka dengan mulut komat-kamit membaca: Bismillah, meski pun tetap saja, jumlah nominalnya tidak pernah cukup bila harus disisihkan guna membeli sepeda ontel baru, atau pun hanya sekedar gincu.

“Nak, kamu kedinginan?”

“Tidak, Bu!”

“Kamu ingin pulang?”

“Tidak, Bu!”

“Pegangan yang kuat, sebentar lagi kita sampai. Bidadari itu sudah menunggu kita di atas panggung!”

“Siap, Bu Guru! Semangaaat!!”

Kriiing kriiingg!!! Begitulah jerit murid melengking nyaring, membelah hujan. Setiap kali mendengar kata ‘bidadari’, seketika jantung murid berdegup kencang. Ada semangat yang berkobar. Ada cita-cita yang terpendam. Cita-cita itu adalah menjadi seorang bidadari yang menari indah di atas panggung, seperti permintaan di hari ulang tahunnya, beberapa waktu yang lalu.

* * * *

Siang hari di dalam kelas, bu guru menyuruh salah seorang murid untuk membaca:

“Dewi, tolong di lanjutkan bacaannya, Nak.”

Seketika Dewi menjadi gugup. Bagi Dewi, entah berdosa apa, namun rasa-rasanya, deretan huruf-huruf di dalam buku itu seolah sedang diguna-guna seorang penyihir jahat, lalu terbang berhamburan, menyebabkan susah untuk dieja. “U-ubi. Ubi?”

Geerrr!! Serentak satu kelas menertawakan Dewi yang keliru mengeja tulisan: ibu. Hampir semua murid-murid juga mengejeknya. Bahkan, teman sebangku Dewi juga tidak luput ikut-ikutan mencemoohnya. Dewi hanya menunduk, pasrah, tidak mampu melawannya sebab percuma, ejekan-ejekan seperti itu sudah tidak asing lagi terlempar ke pusara telinganya.

Suasana kelas menjadi ricuh. Terlebih ricuh lagi, ketika didapati bel pulang sekolah melenguh panjang. Maka tak pelak, setelah membaca doa-pulang seperti biasanya, bocah-bocah berseragam merah-putih itu langsung lari berhamburan, seperti singa kelaparan yang terlepas dari kandang. Mereka begitu bergembira. Kakinya meloncat-loncat, tangannya tidak berhenti bergerak, mulutnya bernyanyi-nyanyi, dan tawanya meledak; terbahak-bahak. Suasana masa kecil memang yang paling menyenangkan, bukan?

Namun tidak semua! Nyatanya, Dewi masih duduk termenung, merajut sedih di dalam kelas. Lengang. Berteman suara detak jam dinding yang merambat pelan, lamat-lamat, Dewi mulai menatapi bangku-bangku kosong kayu jati yang sudah sedikit lapuk itu. Di wajahnya terlihat kegundahan. Air mukanya menafsirkan kesedihan. Lalu setelah menghela napas berat, ia mulai bertanya: “Tuhan, mengapa aku terlahir bodoh? Membaca saja tidak becus?” Gumamnya sembari tertunduk kesal.

Namun sayang, meski sudah berulang kali perihal ini ditanyakan, namun tampaknya, langit enggan memberi jawaban. Dan setiap Dewi mulai merenungi permasalahan ini, air mata dari gadis polos itu seketika mengalir membelah pipi, membentuk parit-parit kesedihan, lalu bermuara sejenak di dagu, sebelum akhirnya terjatuh membasahi seragam lusuhnya. Begitulah.

Selain sindrom disleksia yang menghantui dirinya, Dewi acap kali dicemooh teman-teman karena terlahir yatim piatu. Jangankan mengenali wajahnya, suara ayah dan ibunya pun Dewi belum pernah mendengarnya. Dewi juga harus menahan iri setiap kali dilihatnya teman-teman seusia bergandeng tangan dengan kedua orang-tua. Membayangkan hal itu, ia semakin sedih. Terlebih lagi hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya. “Tuhan, di mana ibu dan ayahku? Bukankah hari ini ulang-tahunku? Kenapa mereka membiarkan aku hidup sendiri, sebatang kara, Tuhan?” Tanyanya lagi, menangis lagi, terisak-isak bahkan.

Di tengah kesedihan gadis kurus itu, tiba-tiba, pintu kelas berderit. “Nak, selamat ulang tahun!!” Bu Guru datang, membawa kue sederhana dengan lilin yang menyala di atasnya. Tidak perlu ditanyakan: itu kue beli dari mana? Atau beli pakai uang apa? Tidak perlu! Guru honorer bergaji kecil itu, semalam dapat lemburan: buruh tulis rapor, dikerjakan dengan penuh tanggung jawab serta penuh keihklasan. 

Dewi kaget terperanjat, cepat-cepat melempar senyum kecut sembari menyeka sembab-sembab di pinggiran bola mata.

Bu guru tetap tenang, memasang wajah yang semringah. Kemudian bu guru berjalan hati-hati, menyodorkan roti kecil di hadapan muka Dewi yang masih menyimpan kesedihan. “Nak, tidak ada manusia yang terlahir bodoh. Di saat Tuhan memberikan kekurangan, maka di sisi yang lain, pastilah Tuhan menitipkan kelebihan. Pahamilah, Nak, jika kamu menilai seekor ikan dari caranya memanjat pohon, niscaya, ikan itu akan terlihat bodoh selamanya…” Kata bu guru bijak, masih dengan melempar senyum yang semringah. “Sudah lah, Nak. Sekarang, mari kita berdoa untuk dirimu, juga cita-citamu, harapanmu-harapanmu, dan juga jangan lupa, sertakanlah doa untuk ibu dan ayahmu.”

Seketika Dewi mengangguk, matanya mulai terpejam penuh hikmat. Bersamaan dengan itu, bu guru mengatakan sesuatu yang akan mengubah hidup Dewi selanjutnya: “Nak, entah mengapa, tapi, rasa-rasanya, ibu melihat aura bidadari bersemayam di dalam dirimu. Kamu mau jadi bidadari? Bidadari yang menari-nari dengan indah?”

Entah malaikat mana pula yang menyambar, namun, setelah mendengar kata ‘Bidadari yang menari-nari’, jantung Dewi merasa berdegup kencang. Darahnya menyembur deras. Jiwa-jiwa bakat seni yang selama ini tertidur pulas dalam dirinya, rupa-rupanya kini telah terangsang, berdenyut, dan terbangun. Mata Dewi mendadak berbinar cerah, secerah matahari yang terbit dari ufuk timur.  

Kemudian lilin ditiup lembut, padam. Dan bersamaan dengan itu, sebuah doa tulus dari gadis yatim-piatu itu melangit, menggetarkan singgahsana Tuhan; Sang Maha Sutradara yang mampu membolak-balikan keadaan kehidupan!

Kriing kriiinggg!! Ontel tua terus melaju, menggilas jalanan terjal bebatuan, membelah hujan badai yang semakin melebat. “Semangat, Nak! Kita harus berjuang!”

“Siap, Bu guru!”

Perjuangan dimulai! Dewi mengangguk setuju ketika ditawari belajar menari. Antusias bahkan. Dan semenjak itu, selain menjadi guru hononer yang merangkap wali kelas, juga guru privat baca, motivator, sopir antar jemput ke sekolah, maka jabatan bu guru juga harus dirangkap lagi, menjelma sebagai: guru les seni tari.

“Memangnya bu guru bisa nari?” Dewi bertanya ragu di hari pertama berlatih.

Bu guru tersenyum sedikit angkuh. “Lihat, Nak.” Secarik selendang mendayu lembut dipermainkan gemulai jari yang melentik. Luwes sekali gerakan bu guru. Terlihat berpengalaman.

Dewi terperangah kagum, hingga tidak terasa, badan kurusnya mulai ikut melenggak-lenggok seperti robot yang kurang oli. Cengar-cengir, Dewi menggeliat asal-asalan, asal-jadi. Cengar-cengir, menggeliat lagi, tertawa, menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi ketika dasar-dasar gerakan tari ternyata sudah dapat dikuasai dalam waktu yang singkat. Ajaib! Dewi ternyata sangat berbakat. Bahkan, Bu guru sampai harus berdecak kagum ketika murid ajaibnya itu berhasil menyabet gelar juara lomba tari tingkat kecamatan.

Namun, selayaknya roda sepeda yang berputar sore hari ini, kehidupan juga akan terus berputar; terkadang di atas, terkadang di bawah.

Dan benar saja, ketika prestasi Dewi sedang naik daun, tersiar kabar buruk karena rapor akhir tahun harus berbunyi; Tinggal Kelas!

BRAAKKK!! Ontel tua terpelanting, jatuh terjerembap pada kubangan lubang yang cukup dalam. Dewi pun menangis.

“Hei, Nak, bangunlah! Abaikan rasa sakitmu! Tidak  ada waktu untuk menangis! Bangun! Kita tidak boleh terlambat!”

Dewi mengangguk, mengusap beberapa bulir air mata. Roda kembali berputar, waktu terus melaju, perjuangan dilanjutkan! Tidak ada yang perlu ditangiskan sekarang. Hujan semakin lebat menjadi-jadi. Berbagai halau dan rintangan masih banyak di depan sana, yang juga harus kembali diterjang di sepanjang perjalanan. Cerita penuh suka dan duka tumpang tindih menghiasi hari-hari. Mulai dari cerita torehan-torehan prestasi yang lambat laun membungkam caci-maki. Atau cerita tentang naik kelas dengan belajar keras meski nilai di ambang batas. Atau cerita soal menangis sedih dikala kalah perlombaan, atau cerita-cerita sedih lainnya tentang apapun itu, tidak masalah, karena Dewi terus melaju, melesat dengan tariannya, sepadan dengan melesatnya ontel tua menerjang hujan badai. “Teruslah belajar, berlatih, dan juga berdoa, Nak!” Kata bu guru selalu terngiang di benak Dewi.

Sementara di sisi lain, perlu diketahui, sejatinya, bu guru mempunyai permasalahan yang selalu disembunyikan dari Dewi. Sebut saja tentang kerja lembur demi menambah pemasukan. Juga mendidik Dewi meski harus menguras tenaga dan pikiran. Sedikit tidur sudah biasa. Masuk angin tidak usah dihitung-hitung lagi. Siang, malam, pagi dan petang, meracik strategi perlombaan: menciptakan gerakan-gerakan baru, sedikit aksen-aksen penekanan pada bagian tertentu, hingga melahirkan jurus-jurus hebat seperti: Kepak Anggun Burung Merak, Telapak Angsa yang Menjejak Cakrawala, Aura Sukma Dewi-dewi, sampai kepada puncak maha karya yang menjadi jurus andalan yaitu; Tarian Bidadari Dewi Arimbi.

Demikianlah; pengorbanan bu guru kepada Dewi, yang sengaja disembunyikan, atau tidak ditampakkan keluh kesahnya, karena, pengorbanan yang sejati tidak akan mengenal hitungan, tentang berapa jumlah jasanya yang sudah disumbangkan, bukan? Lagipula, segalanya akan terbayar lunas, tatkala harapan sudah mulai tampak di depan pelupuk mata.

Lihatlah bila keajaiban Tuhan telah datang. Sore ini tiba-tiba hujan mereda. Langit berangsur tersenyum. Cahayanya kuning, temaram indah, terlempar ke sebuah dermaga yang besar. Dermaga masa depan, yang sebuah kapal tua akhirnya berlabuh, setelah melewati perjalanan dan diterpa hujan badai berkepanjangan.

Ciiitt!! Sepeda ontel tua berhenti. Tanpa basa-basi, bu guru segera mengamit tangan Dewi. “Ayo, Nak, acaranya hampir dimulai!” Kata bu guru tergesa-gesa, berjalan lincah, tanpa menghiraukan sengal-sengal di napasnya.

* * * *

Pada sebuah malam, cerah. Cahaya purnama menggantung sempurna di angkasa. Terang benderang. Kuning merekah. Satu-dua bulir bintang berkedip malu tersipu-sipu. Langit indah lukisan Tuhan malam ini, telah menangungi sebuah Pagelaran Pentas Seni di bawahnya.

Kepulan asap putih, tebal, mengepung panggung mewah bercanggah gagah. Semburat sorotan lampu warna-warni menembak-nembak, menyilaukan jutaan mata penonton mengamati. Deretan Candi Prambanan turut menghiasi pelataran dekorasi.

Hingga tibalah pada puncak pementasan.

Seorang wanita berselendang panjang, menjuntai anggun bak kilau permata di atas panggung. Paras cantik tersenyum ramah, sedikit angkuh, memastikan bahwa dialah Sang Bidadari. Gerakannya begitu halus, mendayu-dayu, mengalir selaras dengan irama tepukan kendang! Keplak, kanan, keplak, kiri, bidadari itu menggeliut, berputar dramatis, mengalun sempurna dalam tempo yang harmoni. Piawai sekali.

Sorak-sorakan histeris bertabrakan, terdengar samar, terlalu tenggelam ditelan riuh tepuk tangan dan kilatan jepret kamera yang menyambar.

Dialah, Bidadari Dewi Arimbi –30 tahun, penari kondang seantero negeri. Bagaimana tidak? Sudah cantik, rendah hati, lagi berprestasi. Kelas Nasional? Huh, jangan bercanda! Internasional sudah terjelajahi semuanya. Lihatlah berbanjar piagam perhargaan di dalam lemari kaca, sudah tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Simaklah juga sewaktu salah satu stasiun televisi mengundangnya di sebuah acara;

“Kita sambut dan beri tepuk tangan yang meriah untuk: Sang Bidadari Dewi Arimbi…”

Tanpa aba-aba, seluruh penonton berdiri serempak menyambut bintang tamu kebanggaan.

“Selamat datang, Mbak…” Pembawa acara menyambut ramah, selanjutnya mempersilakan duduk. “Anda ini selain dijuluki Bidadari Dewi Arimbi, juga digadang-gadang oleh masyarakat Indonesia sebagai: ikon hidup tarian nusantara, lho…”

“Alhamdulillah. Terima kasih banyak atas dukungannya. Saya sangat bangga.” Tamu kebangaan itu tersenyum ramah.

“Oh, ya. Sebelum saya mulai bertanya-tanya, boleh minta tolong? Tolong mbak baca dulu tulisan ini…” Pembawa acara berkedip genit ke arah penonton. “Ya, hitung-hitung, sebagai challange dari kami.”

Sekejap, bintang tamu kebanggan itu merasa gugup. Ia seperti kebingungan melihat tulisan di atas kertas. “U-ubi. Ubii?”

GEEERR!! Serentak satu studio menertawakan kekeliruannya mengeja tulisan: Ibu. Bintang tamu kebanggan itu tersipu malu, menggaruk-garuk kepala, melirik di bangku penonton paling depan, ternyata, bu guru juga sedang ikut tertawa, mengacungkan jempolnya, menangis haru dan bangga.

Tinggalkan Balasan

Close Menu