Bapak Gila – Gadis kecil menjerit riang melihat yang ditunggu telah datang.

Bapak Gila – Gadis kecil menjerit riang melihat yang ditunggu telah datang.

Malam cerah, riuh. Hiruk-pikuk tawar menawar. Lapak tenda dadakan. Terang lampu komedi putar. Bianglala. Bergelantungan permen kapas, putih, kuning, arum-manis. Merah muda paling laris. Semerbak aroma roti terang bulan dijajakan penjual berteriak lantang. Sedikit melucu, menarik perhatian orang-orang lalu-lalang.

Selamat datang di, MALEMAN SEKATEN 2003! Alun-alun Solo.

Sekelebat, angin terhempas. Tersambar seseorang melesat cepat. Satu-dua orang berhasil dilampaui. Gesit, lincah sekali! Lagi, satu-dua, kali ini lima orang sekaligus. Hebat! Pemain sirkus? Kalah! Joki Tong-Setan? Lewat! Lihat saja jaket jeans kesayangannya. Berkelebat cepat seakan ingin terbang ke angkasa. Terbang!? Supermen? Bukan! Dia adalah, SU-PAR-MAN! Seorang imam reguler, merangkap guru ngaji di sebuah Musala kecil yang jaraknya puluhan kilo dari situ.

“MALLIIIING!!” Teriak mas-mas penjaga odong-odong mencuri perhatian khalayak.

Suparman terus berlari, tidak menghiraukan raungan itu. Semakin cepat malah. Terengah-engah, namun tetap piawai. Bagaimana tidak? Setiap jengkal tanah di sini sudah khatam di kepala. Pengahafal Qur’an sekaligus penghafal medan.

“MALLIIIIING!!” Kali ini pedagang asongan yang meraung!

Turbo yang disiapkan untuk detik-detik injury time dikeluarkan. Seeet! Badannya berputar dramatis. Wuuss! Kali ini laju Suparman benar-benar tidak terhentikan. Meloncat pagar, melewati trotoar, menyebrang jalan, menyelusup gang sempit dan hilang tak berjejak. Rencana sepekan ini, sukses total!

Huh, hampir saja! Batin Suparman terpongoh-pongoh, mengambil napas, lalu berjalan menyusuri lorong setelah memasukkan hasil-kerja ke dalam tas. Senyam-senyum, mengingat boneka sepelukan anak kecil. ‘Benteng Vastenburg’, telah menghilangkan jejak dan ‘sesuatu’. Terang saja, kepala menggeleng, kanan, kiri, kanan, kiri, girang! Payah, Suparman harus banyak belajar bersikap dewasa, mengingat usia sudah tidak remaja.

Satu kilometer. Langkah kaki harus terhenti di depan tenda redup sederhana, Angkringan. Sebuah sisir segera merapikan rambut, setelah sebelumnya dibasahi air ludah oleh telapak tangan. Jaket jeans berusaha direnggangkan, menyamarkan sedikit lipatan-lipatan lusuh bekas dikejar musuh. Celana panjang dikeplak, mengusir kotoran debu terperenyak. Suparman ingin tampil, MAK-SI-MAL!

“Bapaaak!” Gadis kecil menjerit riang melihat yang ditunggu telah datang. Dua gelas susu cokelat dan 4 bungkus jajan lima-ratusan menjadi saksi kesabaran. Harapan.

Sekar. Gadis kurus, kecil, matanya bulat, kulit sawo matang, mudah tertawa, mudah juga menangis. Labil? Normal, anak kecil. Usianya saja baru menginjak 5 tahun, terpaut seperempat abad dari bapaknya. Gadis itu terbilang cerdas, mengingat hobinya adalah bertanya. Apa-apa ditanyakan, bapaknya kerepotan, ngeles sedikit jadi jurus andalan.

“Ayok, Pak! Ke Sekaten,” rengek Sekar mencengkeram jaket jeans bapaknya, menagih janji.

“Eee…Sekatennya sudah tutup, Nduk” jawab Suparman mencoba tersenyum manis, jurus andalan. Bohong? Tidak! Mana mungkin bapakku bohong. Takmir Musala dan Ustaz ter-na-ma! Walaupun cuma kelas desa, namun nasehatnya selalu berbau agama. Bohong itu dosa, masuk neraka, begitu kata Bapak.

“Kok udah tutup!?” Rengek Sekar makin meronta. Baju terbaik, rompi sederhana, rok pendek bunga-bunga, bedak bayi seadanya, padahal sudah siap mengantar Sekar menyambangi Sekaten malam ini. Rambut terkepang dua, menyibak, mengikuti geleng irama kepala, “kok udah tutup, Pak!?”

“Nduk, ada acara di Keraton. Makanya Sekaten harus tutup dulu,” jurus andalan.

Malang nasib Sekar. Bualan Suparman ditelan bulat-bulat. Malam ini cuaca cerah. Ratusan bintang bersinar terang. Ribuan malah. Meski begitu, bola mata Sekar mulai tersaput embun.

“Tapi ndak apa-apa, Bapak bawa pesenan kamu, kok,” hasut Suparman semringah, bergaya seperti anak gadisnya, ketika janji dibelikan Boneka Panda hari lalu. Kepala dimiringkan, dahi menjungkit, bibir melebar. Pose yang sempurna guna menghibur.

“Hah!? Boneka Panda? Mana, Pak!?” Bibir Sekar mengukir senyum. Menggunting lipatan kecut mimik wajah satu detik yang lalu. “Pak, mana!?” Gadis itu terus meronta, namun kali ini dengan girang, penuh semangat! “Cepet, Bapak!” Embun di mata masih tersisa, hanya berganti nama, embun kebahagiaan.

“Sabar, Nduk. Sabaar,” usaha Suparman menenangkan putri kesayangan. Punggung terasa ringan, setelah beban tas ransel berpindah ke pangkuan. “Nah, sekarang, tutup mata dulu. Cepet,” pinta Suparman.

“Oke!” Sekar bersemangat. Mata mulai terpejam, setelah bahu terangkat. Harap-harap cemas.

Ritsleting dibuka perlahan. Boneka Panda segera keluar, dihadapkan wajah penuh harap.

“Jangan ngintip ya. Bapak hitung duluu…Satuuuuu…duu–”

AH, SIAPA PEDULI!?

“WAAAA!!” Jerit Sekar melengking, memekakkan telinga. Tangan kurusnya menyamber cepat boneka tersebut! Dipeluk, dicium, ditimang-timang seperti bayi. Tertawa! Nama boneka? Urusan nanti, itu gampang! Dicium lagi, ditimang lagi, jelas tertawa lagi. Kegirangan sangat!

“Syaa la la la laa…Sya la la la laaa…” Sekar gembira sekali, hingga berekspresi, liat nih boneka aku baru! Ingin memberitahu semua orang. Sombong? Biarlah, wajar, namanya juga anak kecil. Suasana gelap di luar tenda tidak menghalangi Gadis itu bermain dengan teman barunya. Lari-lari, nyanyi-nyanyi, berteriak, terbahak-bahak! “Syaa la la la laa…Sya la la la laaa…” Menyenangkan.

“Mas…Mas Parman!? Ini wedangnya,” panggil Mas Pono menggugah lamunan.

“Oh, iya. Nggih, mamatursuwun,” ucapan terima kasih yang terbata. Maklum, baru ngelamun.

Woalaah…Seneng banget itu anakmu, hahahaa…Berapa itu, ya, harganya? Pasti mahal toh, Mas?”

DEGG!! Harga!? Mahal!? Boneka itu!? Tidak-tidak!

Setelah pertanyaan itu terlempar, Suparman menjalani 4 detik terberat dalam hidupnya.

Detik pertama: Suparman lega telah tepat janji. Melihat Sekar lari-lari dengan teman barunya adalah anugerah tersendiri. Detik kedua: Mulai ragu-ragu, pilu, merasa berdosa, mengingat boneka itu adalah ‘mencuri’! Haram!? Tuhan murka!? Tuhan Marah!? Detik ketiga: Bercampur aduk rasa suka dan duka. Sedih sekaligus tertawa. Sendu dan terbahak. Carut-marut, tak karuan! Ah, entahlah.

Dan. Pada detik keempat…

Ciiiiitttt…” Suara ban berdecit panjang!

BRRRAAAAKKK!!!” Dentuman KERAS! Menggelegar! PECAH di telinga!

Sssssshhhh. Angin mendesah. Lampu minyak remang-remang.

Sepi. Sunyi. Senyap. Suparman tahu yang terjadi. Dia tau betul! Tidak, dugaannya tidak mungkin salah kali ini! Suara nyanyian anak gadisnya, SUDAH TIDAK TERDENGAR LAGI, BUKAN!?

– –

Suparman merenung, sedih, lalu tertawa!? Diulang lagi seperti itu, berkali-kali, sepanjang hari.

“PARMAN! HEH! Jangan ngelamun kamu! Makan dulu, nih!” Bentak penjaga, melempar piring plastik dengan kasar! Nasi, sayur-lodeh, tempe goreng, untung tidak tumpah. Sudah berpengalaman.

Namun, makanan tersebut hanya tertatap kosong oleh lamunan.

“Kenapa!? Bosen!? Makanya, jangan jadi orang GILA!” Penjaga kembali membentak! Tidak bosan mengulang-ulang kalimat itu. Suparman sampai hafal. Jelas saja, sudah TIGA tahun mampir di telinga.

Melihat orang di depan hanya mematung, penjaga lantas pergi sembari berkata, “AH, DASAR WONG EDAN!” Sudah tertebak! Batin Suparman juga berucap itu dalam waktu yang bersamaan.

“Wong edan? Aku ndak edan. Sampean itu yang edan,” geming Suparman, setelah berkira telinga penjaga tidak dalam jangkauan suara.

Benar kata Suparman. Hatinya jujur ketika mengatakan itu. Dia tidak gila sekarang! Meski dulu memang pernah. Tepat setelah Sekar meninggal, tertabrak, menggelongsor di bawah mobil pikap dengan memeluk Boneka Panda, ringsek, lebam, tangan terpotong, jemari terlepas, keadaan itu yang memaksa depresi hadir, kemudian mengantarnya kemari. Dua tahun Suparman gila. Gila sungguhan! Tapi sekarang sudah waras. Sudah setahun malah. Bayangkan saja, 365 hari DIANGGAP GILA!? Tentu tidak mudah.

Satu contoh sederhana, bicara soal A, ditertawakan. Ngomong perihal B, tidak dipercaya. Sampai C, D, E, sehabisnya huruf alfabet, ditambah hijaiah, disusul aksara jawa tetap saja. “Ah, dasar wong edan!”

Piring plastik diaduk-aduk sekarang. Dua-tiga suap sudah cukup. Terpenting tempe goreng masuk ke mulut, favorit Suparman. Tapi setengah saja juga, sudah-cukup. Bukan dalam rangka meratapi nasib, atau sedang merajut perut, bukan, Suparman hafal betul ayat, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”, –dalil rokok, bahkan sampai ilmu tafsirnya, tajwidnya, asbabul-nuzul, semua khatam di luar kepala. Namun kembali, tetap saja, “AH, DASAR WONG EDAN!”

Suparman, Ah, bodo-amat! Bersikap bodo-amat sesekali memang perlu. Segera, sisa dari dua-tiga suap dan setengah tempe goreng tadi, tertumpah ke piring Parto, teman sejawat, rekan satu sel. Selain yang paling akrab, Parto memang sudah menunggu limpahan itu. Lihat saja perut buncitnya, satu piring mana cukup? Bisa-bisa perut itu lari, kabur seperti wanita pujaannya, dibawa pergi tetangga desa, kemudian depresi hingga terjeblos sampai di sini. Itu baru Parto, belum lagi kisah Wawan gagal Ujian Nasional, Ujang bangkrut tercekik Bank, sedangkan Maman ditipu asuransi, atau malah Pandi yang jidatnya hitam? Tentu bukan karena sujud, tapi memang sengaja digosok-gosok Batu-Kali agar kelihatan alim? Menggelikan.

Tak-ayal, berhamburan kembali tawa Suparman, mengingat kisah-kisah rekan-gilanya. Lucu!

– –

Hulu malang pangkal celaka, penjaga lewat di depan selnya, kali ini perempuan, “Mas Parmaaan, lagi ngetawain apa, hayooo?” Badan merunduk sedikit, mencoba bersejajar dengan muka Suparman di balik jeruji. Bedak lapis tiga, gincu tebal merah berani, blush-on tidak pada tempatnya, bulu mata palsu tak-usah ada semestinya. Kemudian alis menjungkit, merasa percaya diri, seakan ingin melukis kata, haii Mas Palmaan, akyu icuu Olang Wallas, lhoo. Kalo amuuu icuuu? Olaang Giiyyaa, hihihihiii.

Siapa itu? Penari Gambyong? Bukan! Ondel-ondel? Bukan-bukan. Keris Keraton? Bukan juga. Oh, Reog Ponorogo!?

“Buahahahaa!” Tambah pecah tawa Suparman, melihat kelakuan orang yang katanya waras itu.

“Hahahahaa!” Lepas juga tawa Mbak Penjaga, melihat orang gila yang ketawa-ketawa sendiri.

Simak baik-baik, meskipun mereka sama-sama menertawakan lawan tertawanya, namun sejatinya, siapa yang lebih patut dibilang GILA? Paham!? Ah, tapi sudahlah. Biarkan mereka tertawa puas. Tertawa itu, mahal harganya. Toh, kejadian tersebut juga sudah berlangsung 5 tahun yang lalu.

– –

“Nih,” sebuah sabun dilempar Parto, meluncur cepat, membubarkan lamunan. Seeet, berhasil ditangkap! Mandi bersama!? Sudah biasa. Tanpa hijab di antara penduduk, tidak mengapa. Jorok ih, porno. Awas, nanti bisa saling suka! Maksudnya homo!? Maaf! Sekali lagi, MAAF! Ini Penampungan Orang Gila, bukan penjara. Suparman sedikit-tipis merasa lebih terhormat jika mengingat itu.

“WOI! BURUAN!” Bentak penjaga tiba-tiba!

Suparman terperanjat, ketiduran di kamar mandi.

“Ah, dasar wong edan! Cepat!” Selempar bentak lagi, kali ini disertai pecutan ke bokong, tiga kali.

Sial, sakit sekali, Suparman tetap merintih meski hal itu sudah biasa terjadi. Wajah meringis menahan lebam, tidak bisa bersembunyi di antara ramainya pengunjung pagi itu. Acara baksos ibu-ibu. Entahlah, kenapa bisa sampai di sini? Mungkin panti asuhan sudah pada tutup. Bisa juga karena istri-muda Pemilik Gedung ini ikut kegiatan tersebut, pikir Suparman dengan kesadaran dan analisis tingkat tinggi.

Namun malang nasibnya, harus terdampar di sini berlabel o-rang-gi-la! Delapan-tahun! Ah, masa-bodoh! Suparman masih berpegang kuat bahwa Tuhan Maha Adil. Kebenaran akan datang pada waktunya.

Padahal hampir saja keyakinan itu luntur, sesaat sebelum matanya menangkap perempuan di celah kerumunan itu. Iya, itu dia! Suparman mencubit pipinya sendiri, barangkali raganya masih tertinggal di kamar mandi. Tapi ternyata tidak! Ini nyata! Di rombongan baksos, ada cinta lamanya! Pacar saat remaja.

– –

“Ayok, Pak! Ke Sekaten,” rengek seorang gadis kecil, menagih janji. Baju terbaik, rompi sederhana, rok pendek bunga-bunga, bedak bayi seadanya, sudah siap mengantar, menyambangi Sekaten malam ini. “Cepetan, Bapak!” Makin meronta. Gadis itu mencengkeram jaket Bapaknya, dengan menyibak rambut terkepang dua. “BAPAK!”

Astagfirullah!” Suparman terperanjat, terbangun di atas kursi. Televisi masih bersuara, menyala, memantulkan cahaya terang ke kepala. Ketiduran habis salat isya.

“Hah!?” Gadis kecil ikut kaget, melongo, melihat bapaknya kaget! “Hahahaa!” Sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak, jari telunjuknya menunjuk, Bapak lucu!

Kemudian, muncul perempuan dari balik pintu kamar, “Sekar, jaketnya dipakai dulu…Bapak, ayok toh, nanti kemaleman,” pinta perempuan itu, sembari memakaikan jaket ke anak gadisnya yang sengaja diberi nama, Sekar! Yah, Sekar, meskipun nama tersebut pernah menyisakan banyak luka, di masa lalu.

“Iya, Buk,” jawab Suparman kepada perempuan setia yang paling memahami, mengerti, hingga telah menyelamatkan hidupnya dari Penampungan Orang Gila, beberapa tahun yang lalu. ‘Wati’.

Kliik! “Bengawan Solo…Riwayatmu ini…Sedari dulu jadi…Perhatian insani…”

Sebuah lagu tidak asing untuk Suparman dan Wati, cinta lama, yang pada akhirnya berhasil naik pelaminan, tepat 1 tahun setelah keluar dari Sel. Terdengar lirih di dalam mobil. Sayu-sayu, lembut, saling memandang, tersenyum. Senyuman ini yang sudah lama tidak hinggap di pandang Suparman. Masih sama, khas seperti dulu. Menyimpan seribu satu cerita kala itu. Cerita usang berusia lebih-dari seperempat abad.

Stasiun Balapan, 1992. Suparman dan Wati pergi merantau. Dunia serasa akan ditaklukan, tidak takut mati. Berkelana mencari jati diri. Keterampilan? Pas-pasan, nanti bisa sambil jalan. Ijazah sarjana? Mana ada! Usia mereka saja baru berbilang 19 tahun. Modal cinta sudah cukup! Sedikit bongkar celengan uang receh. Jual kambing Simbok, lumayan buat tombok. Naik kereta, bekal baju seadanya. Namanya juga merantau-tidak-berpamit, alias minggat dari rumah. Maklum, darah muda. Pacaran! “Tenaang, Wati, kalo ada apa-apa, bilang ke aku,” Suparman congak, menepuk dada di atas kereta. Wati tertawa, bahagia, lega.

Jakarta, 1996. Peruntungan Suparman tidak menjadi kenyataan. Selama 4 tahun, hanya 2 profesi yang berhasil jadi pengalaman. Tiga tahun jadi kuli, setahun pengangguran. Modal nekat, akhirnya luntur juga semangat. Suparman resah ingin pulang. Sementara Wati tidak mau! Karirnya bagus, otak ada, tampang mendukung. Sekertaris Perusahaan, tapi cuma kelas rumahan, tapi lumayan buat hidup berdua, tapi Suparman bodo-amat! Tekat sudah bulat tanpa tapi-tapi lagi. Congaknya hilang, ditelan ludah sendiri.

Bicara meninggalkan tidak selamanya harus tentang pergi. Suparman pulang, ke kota kelahiran, Solo. Dan, sejak itu cerita Wati hilang beserta senyumannya. Hingga sampai nanti, di Benteng Vastenburg.

“Mata airmu dari Solo…Terkurung Gunung Seribu…Air mengalir sampai jauh…Akhirnya ke laut…”

Solo, 1998. Lagu Bengawan Solo terdengar santer di sepiker, hajatan tetangga. Sementara di rumah reyot dukun bayi –seberang jalan, Sekar lahir sembunyi-sembunyi. Maklum, jabang korban ‘kecelakaan’. Hanya Simbah Dukun, Suparman, ‘wanita-jalang’, dan Mas Pono –Angkringan– yang menjadi saksi. Namun setengah tahun kemudian, wanita-jalang pergi, mencampakkan Suparman-miskin dan buah hati. Ah, biarkan saja. Bodo-amat! Wanita-jalang itu? Siang jadi tukang cuci, malam jadi ‘jajanan’ hidung belang! Buat apa!? Suparman tegar, membesarkan Sekar seorang diri. Penuh kasih, sayang, cinta, dan LAPAR! Biar saja, asal Sekar kenyang. Dari sini ia juga bertobat. Mulai hijrah. Bersungguh-sungguh mencari rida Sang Ilahi. Titik balik kehidupan. Menjadi seorang hamba yang lebih disayang Tuhannya.

“Itu perahu…Riwayatmu dulu…Kaum pedagang S’lalu…Naik itu perahu…”

Sudahlah, perahu sudah berlayar, waktu telah berputar. Sudahlah, tidak ada yang perlu dipersalahkan sekarang, dulu, bahkan esok dan lusa. Yakinilah, semua yang telah diizinkan Tuhan untuk terjadi, selalu menyimpan hikmah. S’lalu.

“Bruum…” Mobil berhenti, terparkir di sebuah kerumunan.

Malam cerah, riuh. Hiruk-pikuk tawar menawar. Lapak tenda dadakan. Terang lampu komedi putar. Bianglala. Bergelantungan permen kapas, putih, kuning, arum-manis. Merah muda paling laris. Semerbak aroma roti terang bulan dijajakan penjual berteriak lantang. Sedikit melucu, menarik perhatian orang-orang lalu-lalang.

Selamat datang di, MALEMAN SEKATEN 2018! Alun-alun Solo.

Sekar, gadis kecil 5 tahun, anak kandung Suparman dan Wati. Yah, dia adalah Sekar yang lain.

“Bapak! Aku mau itu, lucuu…” Tiba-tiba Sekar menunjuk sesuatu.

Hah!? Boneka Panda!? Suparman melongo.

“WAAAA!!” Jerit Sekar melengking, memekakkan telinga. Tangan kurusnya menyamber cepat boneka tersebut. Dipeluk, dicium, ditimang-timang seperti bayi. Tertawa! Dicium lagi, ditimang lagi, jelas tertawa lagi. Kegirangan sangat! Menyenangkan. Nama boneka? Tunggu dulu!

Hmmmmm, Sekar. Yah, ide yang bagus! Sekar ingin memberi nama bonekanya, SEKAR!?

“Hah!?” Suparman melongo lagi, mana-mungkin!? Tidak percaya setelah Sekar memberitahu hal tersebut. Sekar dan Sekar!? Boneka Panda!? Maleman sekaten!? Tuhan, sedang ingin bercanda, kah!?

“Hahahaa…” Pecah tawa Suparman, setelah beberapa detik sempat kebingungan.

“Hahahaaa…” Bertambah keras, menjadi-jadi! Seakan ada sesuatu yang bersembunyi.

“Hahahahahaaa…” Bohong! Suparman, BOHONG! Wati tahu, suaminya TIDAK sedang tertawa!

Wusss! Hembusan angin dari mesin bianglala, mengehentak! Merajut kembali sebuah cerita lalu.

– –

Benteng Vastenburg.

Seorang laki-laki dengan jaket jeans baru saja berlari, meloncat pagar, melewati trotoar, menyebrang jalan, menyelusup gang sempit dan berusaha menghilangkan jejak. Nafas terpongoh-pongoh membuat harus berhenti sejenak di kegelapan, mencari udara. Was-was. Cemas.

“Masss? Mas Parmaan?” Suara perempuan, tidak asing, hampir terlupa, kembali memaksa laki-laki itu membuka lembar ingatan, mengeja huruf per-huruf, mengurut daftar nama. Ketemu! Cinta. Lama.

“Wati!?” Wajah perempuan manis di balik lorong, gelap, berkabut, rindu. Sangat rindu.

Segerombolan orang datang tiba-tiba! Bertanya tentang pria berjaket jeans yang meresahkan! Tentu saja Wati membual, tidak tahu, menggeleng kepala, meyakinkan jika Suparman itu tidak ada di sekitar sini, di balik tembok Benteng yang sudah berlumut itu.

Tak pelak, gerombolan itu pergi, begitu pula dengan Suparman, meninggalkan lagi, sama seperti dulu, sewaktu di kota perantauan. Namun, kali ini ada yang berbeda, “besok malem aku tunggu di sini ya, Wati. Janji!” Suparman berjanji, bersungguh-sungguh kali ini. Meski, telah terbukti, bahwa esok hari, dia harus mengingkari, karena sebuah tragedi. Terdampar di Penampungan Orang Gila, 8 tahun lamanya!

– –

Angin mendesah, lampu minyak remang-remang. Sekar lari-lari, berteriak di luar tenda Angkringan. “Eee…Mas Pono…Boneka itu, aku ndak beli…Aku nyuri…Ngambilin Haknya Sekar dari lapak ibunya, Suparti,” pengakuan Suparman. Sedikit lega, mengingat, jalang itu sudah tobat, jualan boneka sekarang.

– –

“HAHAHAAA!” Masih tertawa di sebelah bianglala. MENANGIS, mengenang Sekar yang pernah ada. Bocah manja, ditinggal ibunya, hidup susah sama bapak, berdua, bapak lucu, jadi mudah tertawa, kalau main paling ke sawah, sesekali jalan ke kota, apa-apa ditanyakan, cerewet, minta balon tidak keturutan, pinjam teman diledekin, uang tidak ada, lapar sudah biasa, jajanan takmir Musala solusinya, merengek lagi, minta Boneka Panda, nyuri, dikejar-kejar orang, sedih, dingin, sunyi, redup, remang, asal berdua, kita sudah bahagia. Nduk, maafin Bapak, sudah menjadi gila, dadah, besok ketemu lagi, di alam sana.

Sekar, sayang Bapak, kan?

Tinggalkan Balasan

Close Menu