Harapan Dahlan

Harapan Dahlan

Se-la-lu. Langkah kaki terasa berat, terpendam tanah pemakaman. Seorang perempuan merenung, mengenang, duduk jongkok di sebelah batu nisan. Menabur bunga. Meraba ukiran bertuliskan: Akbar Dahlan.

Dan selalu, senyum hadir ketika membaca nama itu. Masa-masa dulu. Menyenangkan.

– –

“Mas Dahlan! Cepetan…”

Sontak saja, seorang bocah gemuk bergegas lari, melempar handuk dari kamar mandi. Kaos oblong sederhana, celana pendek sobek-sobek, pakaian terbaik untuk hari ini. Pipi gempalnya berhenti, di atas sepeda tua dari besi.

“Sudah, Dek? Pegangan yo…kita harus ngebut biar ndak telat…”

Weealah caaaah, bocah…Mau pada kemana sore-sore, hah!?”

“BERANGKAAAAT…HAHAHAAA…”

“Dadaah Simbaaah…hihihii…”

Kriing kriing kriiiing! Terlambat. Pedal sudah dikayuh, rumah tua semakin menjauh. Kedua bocah yatim piatu itu sangat kompak! Nakal? Tidak juga. Namun yang pasti, Dahlan Gemuk selalu tepat janji. Hari ini mengantar Adik Kurus kesayangan, menonton pagelaran pentas seni.

– –

Langit MALAM, legam. Cerah bintang bersinar terang. Bertaburan indah, menaungi deretan Candi Prambanan. Sebuah panggung besar berdiri kokoh. Sorot lampu warna-warni, menembak-nembak, menyilaukan setiap sudut dekorasi. Pagelaran yang megah. Mewah!

Tibalah, pada puncak pementasan.

Seorang wanita berselendang, menjuntai anggun bak permata malam ini. Gerakan gemulai, mengalun, mengalir dengan irama kendang. Keplak, kanan, keplak, kiri, menggeliut, bersanding mulus dengan tempo yang harmoni. Piawai sekali. Menggetarkan ribuan mata mengamati.

“Mbaak Sariii…Mbaak Sariii…Dewiii…” Teriakan histeris bersahut, tersamar oleh riuh tepuk tangan dan kilatan jepret kamera.

Yah, Kartika Sari Dewi, penari kondang seantero Negeri. Bagaimana tidak? Sudah cantik, rendah hati, lagi berprestasi. Kelas Nasional? Hah, jangan bercanda! Mancanegara sudah terjelajahi. Simaklah piagam-piagam perhargaan di lemari kaca, sudah tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Bidadari Dewi Arimbi, julukannya. Sang ikon hidup tarian Nusantara.

– –

Angin bergulir, pohon beringin mendesah. Perempuan itu masih duduk di atas tanah.

– –

PAGI, cerah. Matahari mulai naik. Terik. Menyelusup ke bahu jalan. Klakson bising bertabrakan, seakan tidak terima rambu merah telah menyala.

“Dek, Kedaulatan Rakyat, ya.” Orang kaya membuka jendela, menunjuk koran di pelukan bocah gemuk yang masih bertumpuk. Sekedar iba.

“Tiga ribu, Om.” Menelan ludah, mengusap keringat di pipi yang gempal.

“Kamu nggak sekolah, Dek?”

“Nggak ada biaya, Om,” jawab cepat, merogoh-rogoh saku mencari sesuatu.

“Lha? Emang orang tua dimana? Sekolah itu penting, lho…Jangan sampai ndak sekolah.”

“Om mau biayain saya sama adek saya?” Menunjuk Bocah Kurus di pinggir jalan.

Orang kaya diam seribu bahasa, mengamati bocah itu sedang menari-nari. Gembira sekali.

“Itu adek saya…Sukanya nari-nari…Maklum, calon penari nomer satu di Jogja! Bagus, kan?”

Lampu hijau sudah menyala. “Ambil aja kembaliannya.” Saatnya Orang kaya menutup jendela, pergi, menggantungkan perihal bagus dan biaya.

Celangak- celinguk. Dahlan menggaruk-garuk kepala, heran, pertanyaannya tidak terjawab lagi dan lagi. Sudah hampir seribu kali. Tapi, ambil aja kembaliannya, sudah cukup membuat lega.

– –

Burung-burung mulai bersembunyi. Matahari menyembur panas di tanah pemakaman. Sepi. Sunyi. Perempuan itu tanpa payung, membiarkan kulit putinya terbakar. Keras kepala!

– –

Suatu SIANG, riuh. Hiruk-pikuk, ricuh!

PLAAK! Sebuah tamparan keras! Menghentak di pipi yang gempal!

“Woalah…Cilik-cilik udah jadi MALING, HAH!? Ngaku! Dimana kamu sembunyiin!?”

“Aku ndak nyuri…huhuhuuu…” Menangis, merunduk, mengaitkan jemari tangan.

PLAAK! Selempar lagi, lebih keras! Mendarat di tempat yang sama.

“Masih ndak mau ngaku, HAH!?” Mata melotot! Marah! Wajah memerah.

PLAAK! PLAAK! Lagi dan lagi! Menjadi lebam kali ini. Biru, panas. Keras kepala!

“Aku ndak nyuri, Mas…Huhuhuuu…Ampuun…Huhuhuu…” Mengiba. Sangat mengiba.

Orang-orang mulai berdatangan di tengah kesibukan tawar-menawar. Berkerumun, seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan. Tentu saja, kata “MA-LING” di sebuah Pasar memang patut menjadi pusat perhatian. Bocah Gemuk masih di sudut. Meringkuk, menangis, bersandar tembok.

“Wooo…Minta dipecut kamu, HAH!?” Laki-laki itu melepas sabuk kulitnya, seeett, tebal.

“Sudah sudah! Sudah, Mas. Ndak apa-apa…Kasian itu, anak kecil,” teriak ibu pemilik lapak.

Wusss! Sekelebat, bocah itu lari menunggangi kelengahan laki-laki yang siap mengeksekusi. Perut buncitnya tidak bisa menghalangi laju kecepatan. Napas pendek terengah-engah, meminta tubuh untuk menyerah. Namun sayang, tekad sudah terlampau bulat. Janji tetaplah janji, menepati harga mati! Semua itu dilakukan demi secarik selendang putih. Yah, secarik selendang putih. Mempunyai banyak cerita, makna, dan juga cita-cita!

– –

Suatu SORE di pematang sawah. Langit biru malu-malu, tersaput jingga menguning syahdu. Hari ini spesial. Sangat spesial malah.

“Selamat ulang tahun, Mas Dahlan…Hihihii…” Hari ulang tahun Dahlan.

“Selamat ulang tahun juga, Dek…Hahahaha…” Dan juga Adek Kurus kesayangan. Kompak!

Segera, dua bungkus Roti Premium dikeluarkan dari tas selempang. Lupakan saja soal harga. Sudah pasti mahal untuk sekelas penjaja koran. Ah, tapi harap maklum. Setahun sekali.

“Enaaakk…hihihiii…” Gadis kurus keranjingan menggigit krim moka yang lumer di mulut.

Dahlan melirik cepat, dasar ndeso…Eh tapi aku juga, “hahahaa,” ikut tertawa. Lega.

“Emm…Dek, lihat nih…” Dahlan berdiri bersama tubuh gemuknya. Seeett, goyang ke kanan, seeett, juga ke kiri. Melenggak-lenggok bak penari kondang seantero Negeri, obsesi adeknya. Lagi, seett, kanan, seett, kiri, seett kanan-kiri payah! Gerakan Dahlan seperti robot berkarat kurang oli.

“Hihihiii…” Jelas saja Gadis Kurus tertawa. Rambut poni bergerak-gerak, cekikikan.

Dan di tengah tawa itu, tiba-tiba.

“TARAAA!” Angin berhembus, menghempas sesuatu. Secarik selendang putih, bercorak bulu merak, melambai indah di tengah pematang sawah. Belum lagi baluran pernak-pernik warna emas, menyebar, membelalakkan mata.

Roti Premium beserta krim moka menjadi hambar sekarang. “WAAAA!!” Teriak histeris melengking kuat! Yah, menurut Gadis Kurus, ini memang patut diteriaki! Impian sejak lama! Dikeluhkan, diharapkan, dimintakan kepada kakaknya. Gampang, nanti Mas beliin, janji congak!

Senja mesra langit jingga. Matahari terbenam dikala harapan membubung tinggi. Cita-cita Gadis Kurus maju, setapak demi setapak, walaupun harus dibayar lebam, pada pipi yang gempal.

– –

“Huuhuuhuuu…” Gadis Kurus menangis, terisak, tidak tega melihat kakaknya babak belur.

Beberapa saat yang lalu, Dahlan berkelahi dengan bocah-bocah tetangga Dusun. Dikeroyok. Urusannya sepele, hanya karena mencemooh Adeknya yang sedang melenggak-lenggok riang mengenakan selendang putih.

Namun buat Dahlan, ini tentu masalah besar! Cita-cita Adek kesayangan bukanlah perihal remeh. Diabaikan saja sudah murka, apalagi sampai dihina? Tentu saja Dahlan lari, meloncat, terbang, kemudian mendaratkan sebuah pukulan telak ke mulut kotor tersebut.

Tak pelak, gerombolan itu seketika membantu temannya yang tersungkur. Dahlan dihajar habis-habisan! Babak belur. Bertubi-tubi. Ah, namun siapa peduli? Dengan menerima hantaman dari berbagai arah, Dahlan tetap saja berteriak, “MINTA MAAF SAMA ADEKKU, CEPET!”

Beruntung tukang bakso datang. Melerai perkelahian bocah-bocah nakal. Pengeroyokan!

“Huhuhuhuuu…” Gadis Kurus masih menitikkan air mata.

“Sudah, Dek, Mas Dahlan ndak apa-apa…Tenang, aku itu Preman Jogja…hahahaa.” Perut buncit bergoyang-goyang, tertawa, menahan perih hati terluka, mengusap air mata kesayangannya.

– –

Seperti seorang ibu kepada anaknya. Atau seorang penyair kepada kekasihnya. Tentang harapan, mimpi, serta cita-cita, semua bisa dititipkan, lantas menyatu, dalam sebuah ikatan kasih sayang. Meskipun terkadang, hal itu berat. Karena harus mengesampingkan, cita-citanya sendiri.

– –

“Mas, kamu masih pingin jadi Dalang? Sekarang, aku punya suami Dalang. Hebat pula! Tapi Tuhan terlalu sayang sama kamu, sampe harus memanggilmu di usia 12 tahun.” Perempuan itu bergeming sendiri, kemudian bangkit dan meninggalkan selembar kertas:

Mas Dahlan, hari ini kita ulang tahun, lho. Aku kangen kamu. Banget. Terima kasih udah jagain aku, dulu, Pagi, Siang, Sore. Menyayangiku, dan juga menopang cita-citaku. Maafin Adekmu ini yang selalu ngerepotin. Aku cinta kamu. ‘Kartika Sari Dewi – Bidadari Dewi Arimbi’

– –

Memang benar raga Dahlan telah terkubur. Begitu pula dengan perih dan lebam di pipi. Namun cita-citanya masih hidup sekarang, bahkan esok, lusa hingga nanti. Dan begitulah tentang hakikat cita-cita yang tinggi, selalu ada, hidup, meski harus bersemayam di dalam diri yang lain.

– –

“Dek…Besok kamu pingin jadi apa?”

“Penari…Kalo Mas Dahlan?”

“Dalang…Tapi nanti…Setelah kamu jadi Penari…Hahahahaa…”

This Post Has One Comment

  1. Mantaap!!

Tinggalkan Balasan

Close Menu